Arendt menceritakan dalam buku Eichmann In Jerusalem bahwa tahap awal kebijakan Yahudinya Nazi berakhir di hari-hari awal perang. Tahap pertama, menurut kata-kata Arendt, adalah tahap pengusiran. Bekerjasama dengan para Zionis, kaum Nazi mengeluarkan kaum Yahudi dari Jerman dan Austria, dan bertindak lebih jauh dengan memindahkan mereka ke Palestina. Menurut Arendt, tahap kedua dimulai bersamaan dengan perang, sebab tak mungkin lagi memukimkan kaum Yahudi ke Palestina.
Karena Jerman kini sedang berperang melawan Inggris, dan kapal-kapal Jerman tak dapat mengangkut penumpang melalui laut yang diawasi Inggris ke suatu daerah yang dikuasai Inggris. Arendt mengulas singkat tentang keadaan yang berubah ini: “pemindahan paksa” telah menjadi rumusan resmi pemecahan masalah Yahudi, namun pemindahan tak lagi mungkin. Karena itu, kata Arendt, kebijakan Nazi memasuki tahap kedua perkembangan: semua kaum Yahudi di Eropa akan dikumpulkan dan dikucilkan. Setelah tahap ini, menurut Arendt, tahap ketiga, atau tahap Pemecahan Akhir, segera menyusul, dan semua orang Yahudi yang telah dikumpulkan akan dijadikan sasaran pemusnahan.
Bagaimana pun, Arendt menyampaikan satu fakta menarik lain: karena tak dapat melanjutkan pemukiman kaum Yahudi ke Palestina akibat suasana perang, kaum Nazi mencari pemecahan baru, dan memutuskan untuk mendirikan negara-negara kecil dan sementara bagi kaum Yahudi. Sebenarnya, ini bukan barang baru, sekedar kelanjutan dalam kemasan berbeda kebijakan lama Nazi-Zionis untuk memisahkan kaum Yahudi dari bangsa Jerman.
Upaya pertama membangun negara Yahudi seperti itu adalah Rencana Nisko. Rencana ini disusun oleh Eichmann dan Brigadeführer SS, Franz Stahlecker, menyusul kemenangan Jerman atas Polandia. Polandia lalu dibagi antara Nazi dan Soviet, dan satu juta orang Yahudi Polandia yang berada di daerah pendudukan Jerman menjadi masalah bagi Nazi. Karena itu, Eichmann dan Stahlecker menyusun Rencana Nisko. Rencana ini mencakup pemindahan paksa kaum Yahudi yang tinggal di daerah-daerah yang baru diduduki, dan kaum Yahudi di daerah-daerah Reich lainnya, ke General Government (daerah Polandia yang diduduki Jerman), yang, apa pun daerah itu, tidak dianggap bagian dari Reich. Arendt mengatakan bahwa rencana ini perwujudan sementara tujuan Eichmann untuk menyediakan sebuah daerah bagi kaum Yahudi. Arendt juga menyebutkan bahwa perancang Rencana Nisko lainnya, Stahlecker, biasa berjabat tangan dengan para fungsionaris Yahudi.
Rencana Eichmann dan Stahlecker mendapat dukungan Heydrich, sehingga ribuan orang Yahudi dikumpulkan di “daerah otonom Nisko” dan membangun kerangka kerja awal bagi sebuah pemerintahan. Suatu dewan kaum Yahudi dibentuk atas perintah Nazi, dan Eichmann menyusun sebuah pusat perpindahan kaum Yahudi. Para perwira SS mengatakan kepada kaum Yahudi yang dipindahkan ke daerah itu: ”Führer telah menjanjikan ... kaum Yahudi ... sebuah tanah air baru.” Namun demikian, efektifitas rencana ini dihambat oleh suasana perang, dan tak sesuatu pun yang mirip negara sejati dapat terbentuk. Bagaimana pun, orang-orang Yahudi telah terkumpul dan kini akan lebih mudah memindahkan mereka ke Palestina.
Sebagaimana diingatkan Arendt, Nazi mencoba mendirikan negara-negara otonom Yahudi di tempat lain. Upaya kedua Eichmann terjadi tahun 1940. Upaya ini dikenal sebagai Rencana Madagaskar, sebab dirancang untuk memindahkan 4 juta orang Yahudi ke Madagaskar, dan pembangunan sebuah negara bagi mereka di bawah perlindungan Nazi. Proyek ini sebenarnya memiliki kemiripan dengan Proyek Uganda dulu yang dirancang oleh Inggris. Proyek Uganda menawarkan Uganda, bukan Palestina, sebagai tanah air bagi kaum Yahudi. Inggris lebih memilih Uganda karena khawatir pada keresahan bangsa Arab tentang Palestina. Proyek ini bagaimana pun ditolak para Zionis. Kini Nazi sedang mencoba sebuah proyek serupa. Karena tak menguasai Palestina, tak mungkin Nazi menawarkannya pada Zionis. Madagaskar, sebuah jajahan Vichy Perancis, tampaknya lebih mungkin secara politis
.
Satu contoh lain upaya membentuk sebuah negara Yahudi otonom adalah upaya Heydrich, dengan bantuan Eichmann, di Bohemia dan Moravia. Sebagaimana ditulis Arendt, Heydrich berjanji akan membuat negara itu “judenrein” jika dia diberikan kekuasaan atas Bohemia dan Moravia. Eichmann bertanya kepada Heydrich bagaimana melakukannya, dan menawarkan untuk mendirikan sebuah negara otonom. Heydrich menerima, dan memerintahkan pengosongan orang Ceko dari daerah Theresienstaadt. Kaum Yahudi Bohemia dan Moravia dipindahkan ke daerah yang dikosongkan itu. Masih ada fakta-fakta menarik lainnya. Mark Weber, dalam artikelnya Zionism and the Third Reich, menunjukkan bahwa di tahun 1942, seorang pengamat melaporkan bahwa ada sebuah kibbutz di Jerman yang berjalan atas izin resmi, yang melatih orang-orang Yahudi yang hendak pindah ke Palestina. Weber juga menyatakan bahwa kibbutz ini mungkin aktif di tahun-tahun berikutnya. Dengan kata lain, kebijakan pemindahan, yang menjadi dasar persekongkolan Nazi-Zionis sebelum perang, berlanjut, sejauh dimungkinkan, selama perang.
Dengan kata lain, persekongkolan antara Zionis dan Nazi berlanjut di saat mana jutaan kaum Yahudi tak bersalah hidup di bawah kekejaman dan penyiksaan serta jutaan orang dibunuh tanpa belas kasihan di kamp-kamp konsentrasi.
sumber = harunyahya.com
B.#37 = Masa Perang dan Negara-negara Otonom Yahudi di Bawah Perlindungan Nazi
B.#35 = Upaya-upaya Eichmann Memaksa Bangsa Yahudi Pindah ke Palestina
Di tahun 1938, ketika Anschluss (penyatuan Jerman dan Austria) dimulai, kekuasaan Eichmann mengembang ke lingkup yang lebih besar: ia menjadi kepala kantor perpindahan Yahudi dari Austria. Dalam delapan bulan, ia telah mengawasi pemindahan 150 ribu orang Yahudi dari Austria, banyak di antaranya yang akhirnya diarahkan ke Palestina. Eichmann menjalin kerjasama terselubung dengan para pemimpin Zionis dalam prosedur perpindahan. Belakangan Eichmann (seperti dikutip Arendt) akan mengatakan yang berikut tentang operasi pemindahan itu:
“... Pemecahan yang sama-sama dapat diterima, sama-sama adil, harus ditemukan. Pemecahan yang saya bayangkan adalah mendapatkan tanah yang kokoh di bawah kaki mereka sehingga mereka akan memiliki rumah sendiri, tanah sendiri. Dan saya sedang bekerja ke arah pemecahan itu ... dengan senang hati, karena ini juga jenis pemecahan yang disetujui oleh pergerakan di kalangan Yahudi sendiri, dan saya menganggap inilah pemecahan paling tepat atas masalah.” Inilah alasan sejati mereka “bekerjasama,” alasan upaya mereka “didasarkan pada kesamaan kepentingan”. Demi kepentingan kaum Yahudi-lah, walau mungkin tidak semuanya mengerti, untuk keluar dari negara itu; “seseorang harus membantu mereka,“ seseorang harus membantu para fungsionaris ini bertindak, dan “itulah yang saya lakukan.”
Arendt, saat mengulas kata-kata Eichmann, mengatakan: “Jika para fungsionaris Yahudi itu ‘idealis,’ yakni, Zionis, ia menghargai mereka, ‘memperlakukan mereka sederajat,’ mendengarkan semua ‘permintaan, keluhan, dan permohonan dukungan,’ memenuhi ‘janjinya’ sebisa mungkin... ”
sumber = harunyahya.com
B. #34 = Adolf Eichmann
Buku Arendt Eichmann in Jerussalem adalah salah satu buku terpenting tentang hubungan Nazi–Zionis. Buku ini penting karena Arendt terkemuka di Amerika pasca perang maupun di kalangan Yahudi sebagai seorang pemikir sejarah dan politik.
Bukunya menceritakan pengadilan mantan perwira SS Adolf Eichmann, yang diculik di Argentina pada tahun 1960 oleh agen-agen Mossad, dibawa ke Israel, dan diadili. Eichmann itu penting karena dialah orang yang ditunjuk memecahkan masalah Yahudi, atas perintah Reinhard Heydrich. Israel menggunakan pengadilan Eichmann untuk membuat propaganda... Namun pengadilan Eichmann itu suatu cerita yang aneh, sebuah cerita yang sangat tak sejalan dengan propaganda Israel. Arendt membeberkan fakta-fakta yang menarik.
Pertama-tama, Arendt menarik perhatian ke Undang-undang Nuremberg, diberlakukan tahun 1935 oleh Nazi, yang mencoba mengucilkan kaum Yahudi dari masyarakat Jerman. Arendt menunjukkan bahwa undang-undang itu sangat cocok bagi kaum Yahudi yang sedang mencoba mempertahankan homogenitas Rumah Israel, dan aturan-aturan yang sama, sekalipun tak tertulis, masih berlaku di Israel. Ia mengingatkan kita bahwa di Israel, orang Yahudi dilarang menikah dengan selain Yahudi. Dalam membahas latar belakang masalahnya, Arendt memaparkan fakta-fakta mengejutkan tentang Eichmann. Eichmann bukan seorang anti-Semit di masa mudanya, dan bahkan memiliki ipar-ipar orang Yahudi (misalnya, satu orang dari keluarga Weiss, direktur utama Vacuum Oil Company of Vienna). Menurut Arendt, Eichmann tertarik pada gerakan Freemasonry dan selama beberapa waktu mengikuti Schlaffaria Lodge, sebuah cabang gerakan itu.
Karir militer Eichmann bermula di tahun 1934 saat memasuki SD, sayap keamanan SS. SD, yang didirikan oleh Reichsführer-SS Heinrich Himmler, beroperasi sebagai dinas intelijen di bawah arahan Heydrich. Sesaat setelah bergabung, Eichmann memasuki seksi urusan kaum Yahudi di SD, dan menjadi pakar masalah Yahudi. Selama kurun waktu itu, ia membuat kontak pertamanya dengan para pemimpin Zionis di Jerman. Arendt mengatakan bahwa saat itu Eichmann membaca buku Theodor Herzl The Jewish State (Negara Yahudi) dan amat terkesan dengannya:
...Von Mildenstein... memintanya membaca buku Theodor Herzl Der Judenstaat, karya klasik Zionis yang terkenal, yang segera dan selamanya mengalihkan Eichman ke Zionisme... Sejak itu, sebagaimana dikatakannya berkali-kali, ia hampir tidak memikirkan apa pun selain sebuah ‘pemecahan politis’... dan bagaimana “mendapatkan tanah yang kokoh di bawah kaki kaum Yahudi”... Untuk membantu upaya ini, ia mulai menyebarkan ajaran itu di antara rekan-rekannya di SS, memberikan ceramah serta menulis pamflet .... Ia lalu bisa sedikit berbahasa Ibrani... Ia bahkan membaca History of Zionism (Sejarah Zionisme) karya Adolf Bohm ... dan ini mungkin sebuah pencapaian besar bagi seseorang, yang menurutnya sendiri, selalu enggan sama sekali membaca apa pun selain suratkabar.
Alasan Eichmann begitu tertarik pada Zionisme terletak pada kesejajaran yang dikesaninya ada antara Zionisme dan tujuan-tujuan Nazisme. Sama seperti Nazi, para Zionis ingin memindahkan seluruh Yahudi dari wilayah Reich. Bagi pihak Nazi, itu disebut Judenrein (bebas Yahudi); bagi para Zionis, itu berarti sebuah negara Yahudi. Itulah mengapa Eichmann menyimpulkan tujuannya sebagai mendapatkan tanah yang kokoh di bawah kaki kaum Yahudi, untuk menegaskan pentingnya mendukung penciptaan sebuah negara Yahudi. Sebagaimana dikatakan di muka, pada masa ini, dua kubu utama menonjol di kalangan Yahudi: kaum Zionis dan Yahudi pembaur. Kubu kedua menolak perpindahan ke Palestina dan mendukung pembauran ke dalam masyarakat Jerman. Eichmann mengagumi kaum Zionis dan merasa jijik pada para pembaur.
Kontak pribadi pertamanya [adalah dengan] para fungsionaris kaum Yahudi, yang semuanya Zionis kawakan yang terkenal... Alasan ia menjadi sangat terpukau oleh masalah Yahudi, dijelaskannya, adalah ... idealismenya sendiri; para Yahudi ini, tidak seperti para pembaur yang selalu dipandangnya hina, sama idealis seperti dirinya ... . Seorang idealis terbesar yang pernah ditemui Eichmann di kalangan Yahudi adalah Dr. Rudolf Kastner, dengan siapa ia berunding selama pengusiran kaum Yahudi dari Hongaria...
Apa yang disebut Eichmann idealisme, dan sama dimiliki oleh para Zionis, sesungguhnya rasisme. Para rasis di kedua pihak tak menginginkan kaum Yahudi dan Jerman hidup berdampingan. Tentang hal ini, setidaknya, mereka bersepakat. Itulah alasan bagi bantuan besar yang diberikan Nazi untuk pemindahan kaum Yahudi ke Palestina.
sumber = harunyahya.com
B. #33 = Gerombolan Stern Menawarkan Sebuah Persekutuan dengan Nazi
Di halaman-halaman sebelumnya, kami telah menyebut-nyebut Zonisme revisionis. Revisionisme, yang berdasarkan ideologi kanan, sebenarnya ultra-kanan, yang bertentangan dengan kecenderungan kiri WZO, meningkatkan serangan bersenjatanya di Palestina di paruh kedua 1930-an. Serangan-serangan mereka diarahkan baik kepada bangsa Arab maupun sang pemegang mandat Inggris, yang ketat membatasi perpindahan kaum Yahudi, dan dirancang oleh Irgun atau National Military Organization (NMO). Setelah pecahnya Perang Dunia II, Irgun terbagi dua kubu. Sayap Jabotinsky memutuskan menghentikan operasi militer melawan Inggris selama perang. Kubu kedua yang lebih kecil dan radikal, menganjurkan melanjutkan perjuangan melawan Inggris sampai London mengakui sebuah negara Yahudi yang berdaulat. Kelompok ini, yang dipimpin Avraham Stern, keluar dari Irgun pada bulan September 1940 dan menjadikan dirinya organisasi terpisah. Mereka tetap menganggap diri Irgun atau NMO selama beberapa tahun; lalu mengganti nama menjadi LEHI, sementara di mata musuh-musuhnya, mereka dikenal sebagai Gerombolan Stern.
Gerombolan Stern memiliki tujuan-tujuan yang sangat ambisius. Sebagaimana dinyatakan dalam Delapan Belas Prinsip Stern, tujuan utama gerombolan mencakup: sebuah negara Yahudi dengan batas-batas seperti yang dijelaskan di dalam Kitab Kejadian (dari Sungai Nil di Mesir sampai Sungai Sungai Efrat di Irak), pengusiran bangsa Arab, dan akhirnya, pembangunan kembali kuil Yerusalem.
Gerombolan Stern telah memutuskan melawan Inggris, dan karena itu mereka segera mencari cara bekerjasama dengan musuh-musuh Inggris. Di bulan September 1940, pemimpin gerombolan mengadakan kontak dengan agen Italia di Yerusalem. Di sana, mereka menyusun suatu kesepakatan dengan mana Mussolini akan mengakui sebuah negara Zionis sebagai balasan atas kerjasama Gerombolan Stern dengan angkatan bersenjata Italia.
Akan tetapi, kesepakatan ini tak membawa hasil yang nyata, sebab pihak Italia tak sungguh-sungguh menanggapi tawaran itu. Selanjutnya, Stern mengirim Naftali Lubentschik ke Beirut untuk menemui orang-orang Jerman. Lubentschik membuat kontak dengan dua orang Nazi, Rudolf Rosen dan Otto von Hetig, dan menawari mereka sebuah persekutuan militer yang luas. Usai perang, sebuah salinan tawaran Gerombolan Stern ditemukan di antara arsip-arsip di Kedutaan Besar Jerman di Turki. Karenanya, arsip-arsip itu disebut dokumen Ankara. Menurut dokumen itu, organisasi Zionis Stern menawarkan sebuah persekutuan militer resmi dengan Pemerintah Nazi. Secara ringkas, dokumen berisi:
1. Kesamaan kepentingan mungkin ada antara pembentukan sebuah Tatanan Baru di Eropa yang sejalan dengan konsep Jerman, dan cita-cita nasional sejati rakyat Yahudi sebagaimana dilembagakan dalam NMO;
2. Kerjasama antara Jerman baru dan negara bangsa Yahudi yang diperbaharui akan mungkin; dan
3. Pendirian negara Yahudi yang bersejarah atas dasar nasional dan totaliter, dan dibatasi oleh sebuah perjanjian dengan Reich Jerman, akan termasuk dalam kepentingan menjaga dan memperkuat kedudukan Jerman di Timur Dekat.
Berangkat dari pertimbangan-pertimbangan ini, NMO di Palestina, dengan syarat bahwa cita-cita nasional gerakan kemerdekaan Israel yang disebutkan di atas diakui sebagai bagian Reich Jerman, menawarkan diri berperan aktif dalam perang di pihak Jerman.
Pada bulan Desember 1941, Stern mengirim Nathan Yalin-Mor untuk mencoba menghubungi orang-orang Nazi di Turki yang netral, namun ia ditangkap dalam perjalanan dan pertemuan pun batal. Menurut Brenner, tak ada petunjuk bagaimana atau apakah Nazi menanggapi tawaran itu. Paling mungkin, kaum Nazi menganggap Stern kelompok kecil dan tak efektif, dan tak terlalu memikirkan tawarannya. Akan tetapi, apa yang penting di sini adalah sebuah organisasi Zionis menawarkan suatu persekutuan militer kepada Jerman di tahun 1941, tahun saat genosida Yahudi disetujui untuk diluncurkan. Pernyataan tegas Stern bahwa kaum Yahudi dan tatanan barunya Nazi secara mendasar berbagi kepentingan tak terbantahkan nilainya. Yalin-Mor belakangan menyimpulkan alasan di balik tawaran organisasinya kepada Nazi di tahun 1941, di tengah-tengah perang. Ia mengakui bahwa tujuan Stern membujuk kaum Yahudi berpindah ke Palestina amat sejalan dengan rencana-rencana Jerman mengusir kaum Yahudi dari Eropa.
Fakta penting dan menarik lainnya adalah jatidiri seorang anggota Gerombolan Stern yang terkemuka saat dokumen Ankara terungkap: Yitzhak Shamir, yang awalnya menjadi menteri kabinet, lalu perdana menteri Israel tahun 1977–1992. Shamir, seperti gurunya Menahem Begin, adalah seorang teroris kejam di tahun 1940-an, ketika ia terkenal jahat karena serangan-serangan berdarahnya pada sasaran-sasaran Inggris dan Arab.
Peran Shamir dalam upaya bersekutu dengan Nazi tak diragukan lagi adalah sebuah masalah penting. Bertahun-tahun sejak dokumen Ankara ditemukan, Shamir hanya menjawab beberapa pertanyaan tentangnya. Akan tetapi, hampir segala sesuatu yang diketahui tentang tawaran bersekutu itu menunjukkan bahwa ia termasuk salah seorang perancang utamanya. Brenner mengamati bahwa bertolak belakang, bahkan ganjil, seorang calon sekutu Adolf Hitler bisa naik menjadi pemimpin negara Zionis.
Masa lalu Yitzhak Shamir yang kelam disingkapkan oleh temannya sesama orang Israel kali pertama di tahun 1989, saat dokumen Ankara diterbitkan di Jerusalem Post, sebuah koran utama Israel. Kisah itu mengakibatkan keguncangan hebat, dan untuk kali pertama, sepak terjang masa perang Gerombolan Stern yang sembrono menjadi pokok pembicaraan di Israel.
Kini, ada banyak buku yang membahas dokumen Ankara. Namun, kebanyakan pengarangnya, khususnya yang Yahudi, memperlakukan hubungan Nazi-Stern sebagai sebuah peristiwa sejarah yang kabur. Misalnya, Yehoshafat Harkabi, seorang pensiunan kolonel Israel, menafsirkannya sebagai sebuah cerita samar dalam sejarah kaum Yahudi dalam bukunya Israel’s Fateful Hour (Masa-masa Genting Israel). Namun, peristiwa itu tak sepenuhnya samar. Satu-satunya hal yang menjadikan kesamaran itu adalah kebanyakan orang hanya mengetahui peran Stern dalam persekongkolan Nazi-Zionis. Hal itu karena cuma dokumen-dokumen Stern yang diterbitkan. Hubungan antara Nazi dan WZO tetap umumnya tak diketahui. Karena itu, para pemimpin Israel, dan masyarakat Zionis masa kini pada umumnya, dapat berkelit dari dokumen Ankara dengan memperlakukannya sebagai penyimpangan yang janggal. Karena tak terbantahkan bahwa Gerombolan Stern itu ekstrimis, simpati mereka pada Nazi dapat dianggap wajar. Menurut istilah kita, mereka polisi jahatnya Zionis. Wajar saja, hal yang sama tak dapat dikatakan tentang WZO yang “sosialis”, atau tentang Weizmann, Ben Gurion, atau lain-lainnya yang berperan sebagai polisi baik.
Fakta-fakta ini memperjelas bahwa kedua sayap gerakan Zionis sebenarnya mengarah ke fasisme, sebab Zionisme itu sendiri fasis dan rasis. Itulah mengapa tak hanya orang-orang radikal dari Gerombolan Stern, namun semua kubu Zionis, telah bersekongkol dengan Nazi dan kaum fasis sejenisnya. Gerombolan Stern sebenarnya cuma puncak gunung es (sekelumit saja dari keseluruhan),
Potongan cerita terakhir yang akan dibahas dalam masalah ini diberikan oleh Eichmann in Jerussalem: A Report on the Banality of Evil (Eichmann di Yerusalem: Sebuah Laporan tentang Dangkalnya Kejahatan), sebuah buku karangan Hannah Arendt, yang, seperti Lenni Brenner, seorang Yahudi anti-Zionis. Dengan berfokus pada Adolf Eichmann, Arendt menyingkapkan segi-segi tertentu persekongkolan Nazi-Zionis yang sebelumnya tersembunyi.
sumber = harunyahya.com
B. #32 = Anti-Semit Polandia dan Zionis
Di awal tahun 1920-an, masyarakat Yahudi Polandia berjumlah 2,8 juta orang, 10 persen dari seluruh penduduk. Zionisme cukup dikenal dan kuat di Polandia yang memiliki masyarakat Yahudi terbesar di Eropa. Polandia juga rumah bagi sebuah anti-Semitisme yang kuat dan keras. Anti-Semitisme kuat dan Zionisme kuat; keduanya, seakan sudah kaidah, terlahir untuk bersekongkol satu sama lain.
Lenni Brenner telah mempelajari seksama hubungan antara kaum anti-Semit dan Zionis Polandia. Menurut Brenner, perjanjian pertama, yang disebut Ugoda (Kompromi), dirundingkan oleh para pemimpin Zionis Leon Reich dan Osias Thon di tahun 1925. Mitra runding mereka adalah Wladyslaw Grabski, perdana menteri Polandia dan seorang anti-Semit yang kukuh. Grabski sedang mencari pinjaman dari Amerika Serikat untuk Polandia dan mengira bahwa perjanjiannya dengan para Zionis dapat membantunya. Dengan perjanjian itu, pihak Zionis menerima kelonggaran-kelonggaran penting: para wajib militer Yahudi diizinkan memiliki dapur kosher, dan para pelajar Yahudi tak perlu menghadiri pelajaran atau ujian di hari Sabbath (di hari menulis, maupun bentuk pekerjaan lainnya, dilarang dalam agama Yahudi). Brenner menulis bahwa, karena perjanjian mereka dengan perdana menteri yang anti-Semit, Thon dan Reich dianggap sebagian Yahudi sebagai pengkhianat masyarakat mereka.
Joseph Pilsudski menjadi diktator sebagai hasil sebuah kudeta di bulan Mei 1926. Sebagaimana pendahulunya, Pilsudski seorang anti-Semit yang berhubungan dekat dengan para Zionis. Pada 26 Januari 1934, Pilsudski menandatangani pakta tak saling serang selama 10 tahun dengan Hitler. Ia tetap setia kepada para Zionis hingga kematiannya yang mendadak pada 12 Mei 1935. Osias Thon dan Apolinary Hartglas, presiden Polish Zionist Organization, mengusulkan agar Hutan Pilsudski ditanam di Palestina untuk mengenangnya. Para Revisionis Palestina mengumumkan bahwa mereka akan membangun sebuah asrama penampungan para pendatang yang dinamakan Pilsudski untuk menghormatinya.
Setelah kematian Pilsudski, anti-Semitisme meningkat di Polandia. Ada sentimen anti-Semit di kalangan angkatan bersenjata, khususnya di antara para kolonel yang menggantikan Pilsudski memerintah Polandia. Para tokoh anti-Semit garis keras dikumpulkan dalam sebuah partai ekstrim kanan bernama Naras (National Radicals). Di akhir 1930-an, Naras mulai menjalankan pogrom. Bund, partai utama Yahudi pembaur yang kiri, menyusun satuan-satuan untuk melawan Naras. Di sisi lain, para Zionis tak pernah menentang Naras: kegiatan-kegiatan Naras sangat menguntungkan bagi mereka. Semboyan para militan Naras adalah “Moszku idz do Palestyny!” (Yahudi Pulanglah ke Palestina!) – sebuah gaung kasar program Zionis sendiri. Brenner menceritakan bahwa salah satu alasan kaum Yahudi di Polandia menjauhi Zionisme adalah karena para Zionis disukai Naras. Sebagaimana dicatat Brenner, para kolonel Polandia selalu menjadi pro-Zionis yang bersemangat.
Orang-orang anti-Semit sama pro-Zionisnya sebagaimana orang-orang Zionis pro-anti-Semit! Seorang Zionis terkemuka, Yitzhak Gruenbaum, suatu kali menyatakan bahwa kaum Yahudi sudah begitu menjadi “bagasi lebih” di Polandia, dan bahwa “Polandia kelebihan sejuta orang Yahudi dari yang bisa ditampungnya”. Abba Achimeir, seorang pemimpin gerakan Revisionis di Palestina, menyatakan kebencian yang tak terbayangkan berikut ini: “Saya mengidamkan sejuta Yahudi Polandia dibantai. Lalu, mereka mungkin akan sadar bahwa mereka tinggal di ghetto.”
sumber = harunyahya.com
B. #31 = Persekutuan-persekutuan dengan Para Anti-Semit Austria, Rumania, dan Jepang
Kaum Yahudi hanyalah 2,8 persen dari seluruh penduduk Austria, namun sebuah anti-Semitisme yang kuat berkembang di sana setelah Perang Dunia I. Sebagian besar Yahudi Austria memilih Partai Sosial Demokrat. Di sayap kanan Austria, anti-Semitisme tumbuh pesat. Engelbert Dollfuss, pemimpin dari Partai Sosial Nasrani dan perdana menteri Austria, dan Kurt von Schuschnigg, yang menduduki tempat Dollfuss setelah kematiannya di tahun 1934, menandatangani undang-undang anti-Yahudi yang serupa dengan yang dibuat Nazi. Para Yahudi pembaur merasa kebijakan-kebijakan baru ini menggusarkan; kaum Zionis, sebagaimana dapat ditebak, senang dengan meningkatnya anti-Semitisme di Austria. Setelah pembunuhan Perdana Menteri Dolfuss yang anti-Semit, pemimpin WZO Nahum Sokolow mengatakan: “Dialah salah seorang yang membangun, dengan bantuan saya, organisasi Gentile Friends of Zionism (Sahabat non-Yahudi Zionisme) di ibukota Austria”.
Dolfuss, sahabat kaum Zionis, telah melembagakan kebijakan keras anti-Semit yang terus berlaku selama 1930-an – sebelum Anschluss (penyatuan) Austria oleh Nazi Jerman. Kaum Yahudi disisihkan dari kepegawai-negerian. Di tahun 1935, pemerintah mengumumkan rencana-rencana untuk membangun sekolah-sekolah terpisah untuk orang Yahudi. Para pembaur langsung menentang sekolah-sekolah ghetto baru itu. Akan tetapi, Robert Sticker, satu-satunya wakil Yahudi di parlemen Austria, dan pemimpin gerakan Zionis, mengatakan kepada pemerintah bahwa kaum Zionis di Austria sangat menyambut tindakan-tindakan anti-Semit itu. Para pembaur mencoba memperingatkan negara-negara Barat tentang kecenderungan anti-Semit yang berbahaya di Austria. Dalam tanggapan cepatnya, Die Stimme, suratkabar Austrian Zionist Federation (Federasi Zionis Austria), tergesa-gesa menjelaskan bahwa kaum Zionis mengutuk penyebaran cerita-cerita tentang kekerasan di Austria di luar negeri. Brenner menceritakan bahwa selama masa menyisihkan kaum Yahudi, Pemerintah Austria mampu mendapatkan pendanaan dengan bantuan para Zionis.
Peristiwa-peristiwa serupa terjadi di Rumania, di mana kaum Yahudi membentuk 5,46 persen penduduk Rumania. Para ekstrimis anti-Semit mulai aktif di sana sejak 1920-an. Ketika Hitler naik ke kekuasaan di Jerman, arus anti-Semit mengalir kian cepat dan deras, dan kaum anti-Semit menjadi galak dan gemar menyerang.
Anti-Semitisme di Rumania dipelopori oleh sebuah partai fasis bernama Legion of the Archangel Michael (Pasukan Malaikat Mikail), pimpinan Corneliu Codreanu. Partai ini memiliki sebuah milisi bernama The Iron Guard (Pengawal Besi). Naiknya Hitler kian menguatkan kedudukan Legion. Di saat ini adalah tugas para pemimpin Yahudi untuk memulai kampanye yang sungguh-sungguh menentang anti-Semitisme dan membentuk suatu persekutuan dengan kekuatan-kekuatan anti-fasis. Mereka tak melakukannya, karena sebagian besar pemmpin Yahudi adalah Zionis. Sebagaimana diceritakan Brenner, tak satu pun kubu Zionis menunjukkan minat pada perjuangan melawan gelombang anti-Semit di Rumania. Bukannya membantu menyusun perjuangan menentang serangan gencar kaum fasis, WZO malah merencanakan suatu perluasan strategi pembawa petaka Ha’avara ke Eropa Timur.
Jidanii in Palastina! (Yahudi, pergilah ke Palestina!) telah lama menjadi semboyan perang kaum anti-Semit Rumania. Di sisi mereka, para pemimpin WZO menyerukan kaum Yahudi berpindah ke Palestina, dan berbicara secara terbuka tentang perlunya mengurangi tekanan yang disebabkan oleh kehadiran terlalu banyak orang Yahudi. Di bulan Januari 1941, Iron Guard melakukan pogrom berdarah di Bukarest, ibukota Rumania. Ditaksir 100 orang Yahudi terbunuh, dan lebih banyak lagi yang terluka. Sekali lagi, tak ada tanggapan dari kaum Zionis.
Persekutuan antara Zionisme dan anti-Semitisme bahkan merambah ke Timur Jauh, di mana kekuatan nasionalis utama adalah Jepang. Jepang telah meningkatkan kebijakan perluasan wilayahnya usai Perang Dunia I, menerapkan rejim yang makin otoriter di negerinya, dan pada akhirnya bergabung dengan Pakta Anti-Comintern-nya Hitler dan Mussolini. (Catatan: Pakta Anti-Comintern (Comunist International) adalah suatu pakta antara Jerman, Jepang, Hongaria, Spanyol, dan Italia yang isinya menentang komunisme)
Alasan Zionis berusaha bersekongkol dengan Jepang akan ditemukan pada pencaplokan Manchuria oleh Jepang di tahun 1931. Ada cukup banyak orang Yahudi di Manchuria; para Zionis berpikir bahwa lewat persekongkolan dengan Jepang, mereka dapat menekan kaum Yahudi itu berpindah. Jadi, negara boneka Manchukuo, sebutan Jepang untuk Manchuria, akan diubah menjadi sekutu Zionis di Timur Jauh.
Brenner mencatat bahwa militer Jepang memiliki versi sendiri tentang anti-Semitisme. Para jenderal Jepang percaya pada adanya persekongkolan Yahudi di seluruh dunia, dan melihat orang Yahudi lokal sebagai agen-agennya. Karena itu, mereka berkeinginan mengenyahkan kaum Yahudi dari Manchuria sesegera mungkin. Pemecahan yang mereka peroleh akhirnya sama dengan Hitler: Jepang memutuskan mendukung gerakan Zionisme. Di bulan Desember 1937, masyarakat Yahudi di Timur Jauh mengadakan sebuah konperensi di Harbin. Penyelenggaranya adalah Abraham Kaufman, pemimpin Yahudi Harbin yang Zionis. Mimbarnya dihiasi dengan bendera-bendera Jepang, Manchuria, dan Zionis. Para pemimpin Zionis Revisionis Betarim menghadiri konperensi itu sebagai tamu kehormatan. Pertemuan juga dihadiri Jenderal Higuchi dari Intelijen Militer Jepang; Jenderal Vrashevsky dari White Guard (Pengawal Putih) yang anti-Semit; serta para pejabat negara boneka Manchukuo. Konperensi menerbitkan sebuah resolusi, yang dikirimkan ke berbagai organisasi Yahudi utama di dunia, memohon kerjasama dengan Jepang dan Manchukuo untuk membangun sebuah tatanan baru di Asia. Sebagai balasannya, Jepang mengakui Zionisme sebagai gerakan nasional bangsa Yahudi. Zionisme menjadi bagian dari “tatanan baru” Manchukuo, dan Betar diberi warna dan seragam resmi. Persekongkolan dengan Jepang yang menarik ini memberikan pihak Zionis sedikit raihan penting. Hanya sejumlah kecil kaum Yahudi dipindahkan dari Manchuria ke Palestina. Di hari-hari terakhir Perang Dunia II, ketika Tentara Merah menyerbu Manchuria, Kaufman dan sejumlah Zionis lain ditangkap dan dibuang ke Siberia.
sumber = harunyahya.com
B. #30 = Mussolini, Fasisme Italia, dan Zionisme
Zionisme tak hanya membentuk persekutuan dengan para anti-Semit Jerman. Gerakan ini bercita-cita mendorong semua Yahudi di mana pun pindah ke Palestina. Jadi, pada tahun 1930-an dan 1940-an, para Zionis membuat persekutuan rahasia dengan kekuatan-kekuatan fasis lain. Kesepakatan lain yang paling patut dicatat adalah dengan Mussolini yang kemudian menjadi sekutu terpenting Hitler. Di awal 1920-an, setelah meraih kekuasaan, Mussolini mulai memberlakukan sistem totaliter kanan baru yang disebutnya Fasisme. Ia sangat berminat pada wilayah Laut Tengah (Mediterania), dan akibatnya pada Timur Tengah, sebab sebagian besar daerah itu pernah dikuasai oleh para kaisar Romawi, yang dipandang Mussolini sebagai para pendahulunya. Karena itu, tak mungkin baginya mengabaikan masalah Palestina.
Sejak saat tertarik pada Palestina, Mussolini telah berpihak pada Zionis. Ia mengetahui bahwa Zionisme adalah suatu kepentingan besar, dan bermaksud merebut peran pelindung Zionisme dari Inggris. Brenner melukiskan hubungan antara kaum Zionis dan Mussolini secara rinci dalam bukuya Zionism in the Age of Dictators. Menurut Brenner, kaum Yahudi adalah sebuah faktor penting dalam gerakan Fasis Mussolini. Lima orang Yahudi termasuk di antara para pendiri Fasisme. Sekali berkuasa, Mussolini menunjuk sebagai menteri keuangannya wakil presiden Banca Comerciale Italiana, sebuah bank kuat yang dimiliki orang Yahudi. Dua orang menteri luar negeri Mussolini, Sidney Sonnino dan Carlo Schanzar, adalah keturunan Yahudi.
Pada paruh kedua 1920-an, Mussolini beberapa kali menemui wakil-wakil WZO. Akan tetapi, tak ada catatan tertulis tentang pertemuan-pertemuan ini. Weizmann berupaya tetap merahasiakannya. Brenner menunjukkan bahwa otobiografi Weizmann sengaja disamarkan, dan sering menyesatkan, tentang hubungannya dengan Mussolini. Pada 17 September 1926, Weizmann diundang ke Roma untuk berbicara dengan Mussolini; Mussolini menawarkan untuk membantu kaum Zionis membangun ekonominya dan pers Fasis mulai menerbitkan artikel-artikel yang mendukung tentang Zionisme Palestina. Sebulan kemudian, orang nomor dua WZO, Nahum Sokolow, mengunjungi diktator Italia itu, dan Mussolini kembali menegaskan dukungannya bagi Zionisme. Beberapa tahun kemudian Mussolini, selama sebuah pertemuan dengan utusan Zionis lainnya, mengungkapkan kepuasannya atas keberhasilan pertemuan dengan Weizmann dan dukungannya bagi Zionisme sebagai berikut: “... Namun, Anda harus mendirikan sebuah negara Yahudi. Saya sendiri seorang Zionis dan saya katakan demikian kepada Dr. Weizmann. Anda harus memiliki suatu negara yang sebenarnya (un véritable Etat), bukan Tanah Air Nasional yang janggal sebagaimana ditawarkan Inggris kepada anda. Saya mesti membantu Anda mendirikan sebuah negara Yahudi...”. [huruf-huruf miring sebagaimana naskah aslinya]
Hubungan Mussolini dengan kaum Revisionis lebih menyeluruh dan efektif. Brenner membahas kaitan-kaitan yang menarik ini dalam buku-bukunya Zionism in the Age of Dictators dan The Iron Wall: Zionist Revisionism from Jabotinsky to Shamir (Tembok Besi: Revisionisme Zionis dari Jabotinsky ke Shamir). Menurut Brenner, para Revisionis mulai mencari sekutu baru setelah keluar dari WZO. Italia merupakan calon yang alamiah. Jabotinsky memimpikan sebuah tatanan Laut Tengah baru dalam persekutuan dengan Italia. Ia menjelaskan dalam suatu wawancara: “Kami menginginkan sebuah Kekaisaran Yahudi. Sama seperti Kekaisaran Italia atau Perancis di Laut Tengah, kami inginkan Kekaisaran Yahudi.” Kekaisaran Yahudi itu nantinya mencakup Yordania maupun Palestina, serta sebagian Mesir dan Irak. Jabotinsky menganggap diri versi Yahudi dari Mazzini dan Garibaldi! (Keduanya tokoh nasionalis Italia abad ke-19). Mussolini amat bersimpati kepada para Revisionis. Ia menggambarkan mereka sebagai kaum Fasisnya Zion. Di bulan November 1934, Mussolini mengizinkan Betar, sayap pemuda Jabotinsky, mendaftarkan satu regunya ke akademi maritim di Civitavecchia, yang dikelola oleh Pasukan Seragam Hitam. Para militan Betar berlatih bersama dengan Pasukan Seragam Hitam, dan lalu berangkat ke Palestina untuk berperang dalam pasukan Irgun.
Para Revisionis kian akrab dengan Fasisme. Abba Achimeir dan Wolfgang von Weisl, para pemimpin Revisionis di Palestina, menyarankan agar Jabotinsky disebut Duce (pemimpin atau panglima) mereka, sama seperti orang Italia merujuk ke Mussolini dengan Il Duce. Jabotinsky ingin menyelenggarakan kongres internasional pertama NZO di Trieste, di Italia yang Fasis. Tetapi, tempatnya diubah karena khawatir akan kemarahan masyarakat. Di tahun 1935, Mussolini mengatakan kepada David Prato, yang kemudian menjadi ketua rabbi Roma: “Agar Zionisme berhasil, Anda harus memiliki negara Yahudi, dengan bendera Yahudi dan bahasa Yahudi. Orang yang benar-benar mengerti hal itu adalah orang fasis Anda, Jabotinsky.”
Mesti diingat bahwa para Revisionis juga memuji Hitler dan Nazi. Abba Achimeir mengungkapkan pandangannya dalam sebuah pidato: “Ya, kami para Revisionis amat mengagumi Hitler. Hitler telah menyelamatkan Jerman. Jika tidak, Jerman mungkin punah dalam tempo empat tahun”. Simpati Revisionis pada Nazi bahkan terlihat pada seragam mereka. Para anggota Betar mengenakan seragam coklat yang sama seperti SA-nya Hitler. Di tahun 1931, majalah Amerika mereka, Betar Monthly, menulis:
Ketika [Zionis lain] menyebut kami dengan Revisionis dan Betarim Hitlerit (pengikut Hitler), kami tak merasa terganggu... Jika Herzl seorang Fasis dan Hitlerit, jika suatu mayoritas Yahudi terbentuk di kedua sisi sungai Yordan, jika sebuah negara Yahudi di Palestina yang akan memecahkan masalah-masalah ekonomi, politik, dan budaya bangsa Yahudi, adalah Hitlerisme, maka kami Hitlerit.
Revisionis, polisi-polisi jahat Zionisme, bermain Hitlerisme apa adanya. Di sisi lain, para polisi baik dari WZO mengadakan hubungan terselubung dengan para fasis Jerman dan Italia, yang membawa mereka ke sekutu ketiga: Fransisco Franco. Franco, yang menaklukkan golongan kiri Republik di Spanyol setelah tiga tahun perang saudara di tahun 1939, dan lalu membangun versi fasismenya sendiri, yang disebut Falangisme, telah dibantu oleh Hitler dan Mussolini. Akhirnya, para Zionis menemukan jalan mereka ke sisi Franco. Sementara telah diketahui bahwa banyak orang Yahudi berperang melawan Franco, mereka ini umumnya Yahudi pembaur. Sebagaimana ditunjukkan Lenni Brenner, para Zionis tak pernah mendukung Yahudi yang melawan Franco; sebaliknya, para Zionis sangat menentang mereka. Satu alasan dari sikap Zionis ini mungkin adalah jatidiri Franco yang sebenarnya. Shalom, sebuah majalah bagi Yahudi Turki melaporkan pada 29 April 1992 bahwa Franco adalah keturunan Yahudi dan leluhurnya adalah Marrano (sebutan bagi orang Yahudi yang beralih ke Nasrani di Spanyol abad pertengahan). Dalam buku The World Order: Our Secret Rulers, sejarawan Amerika Eustace Mullins menulis bahwa penyokong dana utama bagi Franco, yakni Juan March, juga seorang Marrano.
Sampai di sini kita telah membahas hubungan Zionis dengan Hitler, Mussolini, dan Franco. Akan tetapi, para ekstrimis kanan tak terbatas pada para pendukung ketiga orang itu. Di seluruh Eropa, dari Spanyol sampai Austria, dari Polandia hingga Rumania, terdapat banyak gerakan fasis yang menjadikan Hitler atau Mussolini sebagai teladan mereka. Di tahun 1920-an dan 1930-an, mereka tumbuh kian kuat. Ini berarti sekutu-sekutu baru bagi Zionisme.
sumber = harunyahya.com






